Dear, malam ini untuk kesekian kalinya aku merasakan kesedihan yang luar biasa. Entah bagaimana aku bisa seperti ini dan aku mengatakan diriku telah berubah sekarang. Kemana kah sifat jutekku, cuekku, acuhku terhadap hal-hal yang tak ada di sampingku? Buat siapakah aku berubah kini? Ya!.. kini..

Kini memang tak ada seseorang yang spesial lagi di hidupku, dia telah pergi. Mungkin lebih tepatnya aku yang memintanya untuk pergi. Tapi bukan seperti itu yang aku inginkan, aku hanya takut. Takut akan penghianatan yang terlalu dalam kembali menjamah hidupku, hingga hidupku hancur dan hati ini menjadi remuk berantakan.

Mungkin perpisahan itu hanya untuk menenangkan ku sementara, karena emosiku dan traubymaku muncul kembali. Namun dia yang mulai aku sayang setulus hati tak mengerti apa maksudku dengan semua ini. Aku tau semua yang ia lakukan pada dasarnya aku yang memulainya. Aku memang salah, salah besar. Dia yang mencintaiku tak menghukumku seperti ini ketika aku menyakitinya, tapi aku. Aku yang terlalu kejam. Aku yang terlalu tega. Menghukumnya dengan perpisahan ketika aku merasa sakit karena ulahnya.


Aku sakit, memang sakit tapi mungkin dia lebih sakit daripada aku waktu itu. Hingga kini aku yang merasa sakit lebih dari apa yang aku rasakan dulu. Sakit karena perasaan rindu yang mulai menjarah hari-hariku. Sakit karena tak ada lagi yang menyemangatiku, mendukungku, menabahkan hatiku, memelukku ketika aku terjatuh, mengusap airmataku ketika aku menangis.

Terlalu banyak kenangan yang ia lukis dalam kisah hidupku hingga aku tak dapat melupakannya. Memang selama ini aku terlalu bodoh tak membuka hati untuknya, tapi aku sadar seraya berjalannya waktu bersamanya aku mulai menyayanginya, dengan tulus dan dalam. Tapi aku tak menyadari semua itu hanya karena alasan masih ada kehidupan masalalu di hidupku.

Dan kini aku terlalu sakit ketika dia yang dekat di depan mata tapi seakan sangat jauh membentang jarak tak kasat mata. Tak tau apa yang membatasi hingga kita tak lagi saling kenal dan bertatap muka.
Sakit memang, tapi inilah yang aku rasa sekarang. Bahwa aku… merindukannya! T_T

by: @riafida
Mungkin selama ini aku terlalu bodoh dengan semua pilihan yang aku jalani. Tapi inilah kenyataannya, aku memang masih ingin berjalan disini, mempertahankan posisiku di area kenyamanan. Yaitu disampingmu.

Apa yang aku lihat, apa yang aku dengar, tak sejalan dengan hatiku. Ingin rasanya semua itu aku lepas dan aku buang jauh-jauh, tapi hati ini masih berkata 'jangan'. dan untuk kesekian kalinya dia seperti inii padaku, menganggapku rendah dan remeh.

Suatu ketika dia datang membawa harapan, ya! cuma harapan, tapi aku begitu bahagia melihat harapan tersebut hingga tak mengetahui di dalamnya seperti apa. Mungkin selama ini aku belum cukup sadar dengan apa yang telah aku rasakan dan aku lihat. Belum terlalu faham dan mengerti siapa dia dan bagaimana dia.

Tapi semua itu tak lepas dari kata hati yang selalu membelokkanku ke jalan seperti sedia kala. Berjalan pada lorong tak terbatas oleh cahaya dan tak terlihat oleh suara. Otakku mungkin selalu ingin membawaku pada titik kenyamanan yang berbeda dari sebelumnya, namun hati yang selalu menolak perlahan-lahan.

Ketika itu pula tangan dan kaki tak lagi dapat berkata kecuali bersuara 'ya'. dan menuruti saja apa yang di perintahkan. Saat ini lah hatiku sudah sangat marah dan berteriak "BODOH!!".

                                                                                                                             by: @riafida

Diberdayakan oleh Blogger.