0 Comments

Sebuah Cerpen yang di ilhami dari kisah nyata 
 
Kubawa Cintaku Pulang
Oleh: Fajariatul Afida

“Novita, kamu jadi coordinator bazar yaaah,” teriak ketua kelas Novita dari bangkunya.
Mendengar kalimat itu, sejurus kemudian Novita berdiri dari tempat duduknya semula.
            “Loh, kok aku sih Mel, kan yang lain bisa??” teriak Novita kembali, lalu semenit kemudian aku menghampirinya.
            “Amel, kok aku siihh?? Aku kan nggak bisa gitu-gituan??” ku perjelas kalimat penolakanku atas pembagian tugas tersebut.
Memang keadaan kelas Novita sekarang dalam kondisi yang sangat super sibuk, ribut, dan sangat gaduh. Maklum 2 minggu lagi, lebih tepatnya tanggal 10 Mei sekolahnya, SMAN1 Bangil akan memperingati Hari Jadi yang ke 28, dan mengharuskan setiap kelas mengikuti berbagai macam lomba termasuk lomba bazar.
“Iya Novita, kamu, kamu pasti bisa kok. Kan kamu anak kreatif, hhhehehe,” kata Amel sambil ber-hehehe ria.
“Yaudah deh, tapi percaya ya aku bisa ngatur stan dan makanannya ?” ujarnya pada Amel meyakinkannya kembali.
“Iyah, aku percaya banget kok,” kata Amel sambil tersenyum padanya.
Setelah pembagian tugas tersebut ia langsung bekerja semaksimal mungkin agar tugas yang diemban sebagai coordinator bazaar dapat terlaksana dengan baik dan tak mengecewakan teman-temannya.
            Sepekan ini Novita sibuk mempersiapkan segala keperluan bazar dan berbagai macam makanan dan minuman apa saja yang akan aku sajikan saat bazaar. Aku benar-benar sibuk.
Bel pulang berbunyi. Ttett..ttett,,tteeettt…
            “Eh Novita pulang yuk.” Dina tiba-tiba menarik lengan Novita.
            “Ayuk, tapi langsung pulang yah din aku harus buat design stan nih,”
            “yah makanya buruan dong”
            “Iya iya, yuk,”
Semenjak SMP Dina dan Novita sudah menjadi dua sahabat yang tak terpisahkan. Mulai dari kelas 7 SMP hingga kelas 10 SMA mereka selalu berada ruang kelas yang sama. Jadi tak heran jika keduanya sudah sangat saling memahami satu sama lain.
Tiap hari mereka selalu pulang bersama, biasanya mereka lebih memilih naik angkot daripada naik bis yang jalannya semakin ugal-ugalan. Mungkin salah satu factor mereka pulang bareng karena rumah mereka searah dan jarak rumah mereka kurang lebih hanya 2 km saja.
Di dalam angkot tengah perjalanan…
“Eh Nov, Novita, itu… itu Kak Aris bukan?” tiba-tiba Dina menunjuk seorang cowok berseragam SMK yang tengah bergerombol dengan teman-temannya di pinggir jalan.
“Mana? Mana Kak Aris Din, mana??” sontak Novita kaget dan langsung membalik novel yang tengah di bacanya sedari tadi.
“itu tuh yang pakek topi, seragamnya SMK, bener kan?”
“iyah, itu bener Kak Aris Din, ya allah mimpi apa ya semalem sekarang bias ketemu Kak Aris,” kata Novita yang tengah tersenyum.
“Ciee.. ciee.. yang lagi seneng nih ketemu pujaan hati, ahahah.”
“Ssstt, berisik ah, Kak Aris makin keren aja yah Din.”
“Iya yah, makin cakep ajah tuh orang. Kamu masih suka ya sama dia??
Kenapa nggak diungkapin ajah sih Nov? kan biar kak Aris tau kalau kamu suka sama dia udah dari SMP dulu.”
“Ih, sembarangan ajah kamu Din. Mana berani aku ngomong semua itu ke dia, lagian juga dia belum tentu suka sama aku kan Din. Jadi biarin deh aku sama kamu aja yang tau.”
“Emang dasar kamu Novita cupu, masak gitu ajah nggak berani sih. Udah nanti aku yang ngomong deh sama dia kalau ketemu lagi.”
“Eh jangan.. jangan.. sembarangan ajah nih anak. Bener loh ya jangan di kasih tau sapa-sapa din, awas loh. Kiri pak.” Lalu Novita turun dari angkot setelah angkot berhenti.
“Iya iya, ssipp.” Dina tersenyum melihat sahabatnya sedikit takut dengan perkataannya tadi.
Rumah Novita cukup jauh dari jalan raya, sehingga ia harus jalan kaki terlebih dahulu melewati gang-gang di daerah rumahnya.
Yups, benar.
Kak Aris adalah sosok cowok yang angkatannya satu tingkat diatasnya. Ia sangat mengagumi Kak Aris sejak ia duduk di kelas 7 SMP. Tapi semenjak Kak Aris lulus dan melanjutkan sekolah di SMK, ia jadi jarang sekali ketemu Kak Aris. Kak Aris adalah sosok lelaki yang sangat baik dan pandai hingga ia kagum dan mungkin sekarang berubah menjadi suka dan berkembang menjadi cinta.
Namun sayangnya Kak Aris tak pernah tau jika ia sangat menyukainya mulai ia menjadi adik kelasnya di SMP hingga sekarang ia pisah sekolah.
Selama 4 tahun ia tak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaannya ini kepada Kak Aris. Entah karena Novita termasuk cewek yang pendiam, atau memang perasaannya ini tak penting untuk diungkapkan pada Kak Aris. Dulu saat ia masih duduk di kelas 8 SMP ia suka sekali mengamati Kak Aris dari balik jendela kelasnya. Dan menulis puisi-puisi tentang Kak Aris di diarynya sudah menjadi hobinya semenjak ia mengagumi sosok Kak Aris. Lebih tepatnya ia menjadi Pengagum Rahasia Kak Aris.
Dengan langkah gontai menyusuri gang-gang di desanya sembari mengingat-ingat wajah seseorang yang ia lihat di pinggir jalan tadi. Dalam benaknya muncul keinginan untuk mencari informasi tentang keadaan Kak Aris sekarang.
Tapi sepertinya waktu tak bisa berkompromi. Deadline yang harus ia kejar tinggal 6 hari lagi. Gawat !!!!
            Ia mempercepat langkahnya menuju rumah dan sesegera mungkin mulai mendesign tema apa yang harus ia usung untuk mempercantik bazaar kelasnya nanti.
            Ceklikk!!
“Assalamu’alaikum” teriak Novita saat mendapati rumahnya kosong melompong.
“ibu kemana yah, kok rumah bisa sepi gini sih. Ibuuuk?? Deeekk?? Nih orang pada kemana semua sih?” aku mulai menggerutu sendiri.
Ia membuka pintu kamar adiknya, Virgo.
            Zzt.. zZzt.. ZzZtt.. Mendapati adiknya yang sedang tertidur pulas diatas kasur, dengan seragam pramuka lengkap yang masih melekat di tubuhnya.
            “Eh dek, bangun, ibu kemana kok rumah kosong, pintunya juga nggak dikunci, heh tuyul banguuunn!!!!” tangannya mulai mengguncang tubuh Virgo yang dari tadi tak mendengar omelannya. Namun usahanya tetap saja gagal membangunkan Virgo yang sedang tidur pulas.
            Huufft,, “Virgo, Virgo, kalau tidur udah nggak bisa di bangunin, dasar tuyul” celetuknya sambil menjitak kepala Virgo pelan.
Ia langsung keluar dari kamar Virgo, mencari sesuatu di dapur yang bias ia minum. Mungkin lebih tepatnya di dalam lemari es, karena memang saat itu udara sangat panas jadi tak heran jika tenggorokannya mulai mengaung-ngaung ingin dialiri sesuatu yang menyegarkan.
            Setelah mendapati segelas air jeruk, langsung saja ia ambil dan berjalan menuju kamarnya sambil setengah menyeret tasnya yang lumayan berat. Hari yang melelahkan.
            Di dalam kamar ia mulai sibuk memikirkan tema apa yang cocok untuk bazar. Matanya mulai melihat berkeliling tiap sudut kamar, mencari sebuah inspirasi jika ada. Tiba-tiba bola matanya berhenti menangkap sesuatu yang unik di balik pintu.
            “Batik!! Baju batikku, kayaknya seru kalo’ stan di kasih sentuhan batik. Ehmm, boleh juga,” ujarnya dengan senyum yang mengembang.
            Ia beranjak dari kasur dan berangkat mandi. Loh???
Dari dalam kamar mandi ia mendengar suara ayah dan ibu pulang, entah mereka sudah berapa lama seharian tadi keluar secara bersamaan.

--^^--
Singkat cerita…
Minggu, 9 Mei 2009…
Malam…
            Novita meraih ponselnya dan mulai mengetik sesuatu..
Setelah itu ia mulai mngetik nama “Mbak Faza” di kontaknya, dan Send.
Ia meletakkan ponselnya kembali di atas meja samping kasurnya dan beranjak tidur.
Keesokan harinya…
            “Buk, aku berangkat dulu ya, doa’in nanti stanku rame trus banyak yang beli ya buk.” Pamit Novita pada ibunya sebelum berangkat.
Hari ini ia sudah mempersiapkan semuanya, mulai dari makanan dan minuman yang akan ia jual bersama teman-temannya nanti hingga pernak-pernik yang ia hias di stannya sudah selesai.
“Iya nak, ibuk doakan nanti jualanmu laris manis deh, hehehe, jangan lupa kalau jualan harus senyum biar banyak yang mampir ke stanmu,” ujar ibunya memberi sedikit masukan yang membuat ia makin semangat untuk berjualan hari ini.
“Oke buk, Novita berangkat dulu ya, Assalamu’alaikum,”
“Iya wa’alaikumsalam, hati-hati ya nak,” ibu tersenyum melihatnya memakai baju batik yang ia kenakan saat ini.
“Ayo yah, kita berangkat sekarang.” Kata Novita pada ayahnya.
“Okeh.” Lalu Novita berangkat diantar ayahnya hingga sekolahnya.

--^^--
Hari ini suasana sekolah Novita sangat rame karena berbagai lomba juga dilaksanakan pada jam yang sama. Para peserta sangat bermacam-macam, mulai dari anak TK, SD, SMP, SMA hingga para kakak-kakak alumni dan wali murid peserta lomba.
Seharian Novita dan teman-temannya sibuk melayani pembeli yang dating ke stan mereka.
“Eh Din, adek itu belum di kasih kembalian tuh. Bentar ya dek.” Senggol Novita.
“Iya iya ah, nih dek kembali seribu yah. Makasih ya dek. Ayo dek dipilih kuenya, enak-enak loh kuenya.”
“Iya, ayo buk esnya seger loh buat anaknya, dijamin nggak bikin batuk kok buk. Ayo dipilih..dipilih..”
Suara Dina, Angel, Nena, Karin, Reina dan teman-teman Novita lain terdengar bersahut-sahutan mempromosikan jajanan mereka. Karena mereka tak ingin kalah saingan dengan stan-stan yang lain.

Jam menunjukkan pukul 2 siang…
Tampak suasana sekolah lebih sepi dibandingkan pagi tadi yang penuh dengan keceriaan anak-anak kecil yang mengikuti lomba maupun hanya berlari-larian, yang pada ujungnya membeli es juga. Hehehe ..
Ya maklum saja semua acara lomba sudah amper selesai.
“Alhamdulillah yah jualan kita laris manis, ludes semua,” kata Amel.
“Iya yah, alhamdulillah mel kelas kita dapet untung banyak, hihihih..” sahut Risma.
“Ya udah aku pulang dulu yah, udah capek semua nih,” ujar Novita sambil menepuk-nepuk lengan kirinya.
“Ya udah deh kita pulang aja yuk. Ini biar nanti anak cowok yang beresin. Okeh.” Kata Amel.
“Okeh.” Jawab mereka serempak.
Saat Novita dan Dina berjalan menuju gerbang, tiba-tiba…
“Hei mbak Faza,” Novita berteriak memanggil seorang gadis berseragam SMP sambil mengocok-ngocok pilox yang akan disemprotkan digambarnya.
“Hei Novita,” gadis berseragam SMP itu menoleh ketika sadar namanya dipanggil.
“Waahhh gambarannya Mbak Faza bagus banget. Mbak Faza tadi nggak ke stanku ya, hmmmb,” ujarnya dengan sedikit kecewa.
“Iya sorry, aku nggak tau kalau lombaku ternyata sampek siang begini, maaf ya Novita.” Seketika raut wajah Faza yang tadi ceria sekarang berubah menjadi agak sedih dan menyesal.
Faza adalah anak pertama dari om dan tante Novita yang masih duduk di bangku SMP kelas 7. Novita biasa memanggilnya dengan Mbak Faza.
“Iya deh nggak apa-apa kok Mbak Faza, ya udah lanjutin ajah gambarnya.” Katanya sambil tersenyum. “Aku pulang duluan yah.”
“Iya Novita, hati-hati ya di jalan.”
“Siipp dah. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Setelah itu Novita pulang dan Faza menyemprotkan pilox ke atas kertas gambarnya, sekaligus mencari sinar matahari untuk mengeringkannya.

--^^--
Jum’at, 15 Mei 2009…
Pagi…
“Ayo Novita kita berangkat sekarang yah biar nanti kamu nggak telat,” kata ayah yang pertanda untuk menyuruhnya lebih cepat lagi.
            “Iya iya ayah, ayo berangkat. Ibu, Novita berangkat dulu yah, Assalamu’alaikum,” pamitnya pada ibu. Entah mengapa hari ini Novita merasa ada yang aneh dengan dirinya, tiba-tiba ia teringat pada mimpinya semalam. Ia ingin sekali bercerita, tapi tak mungkin jika harus bercerita pada ibunya tentang arti mimpi itu. Ia harus sekolah hari ini.
“Iya nak, hati-hati yah, wa’alaikumsalam.” Kata ibunya sambil mencium pipi Novita dan tersenyum melihatnya berangkat dengan ayahnya.
“Ayah juga berangkat ya buk, Assalamu’alaikum.” Teriak ayah pelan.
“Iya yah, hati-hati, wa’alaikumsalam,” balas ibu dengan sedikit berteriak pula.
Di tengah perjalanan Novita melirik jam mungil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jarum panjang berada diantara angka 10 dan 11, sedangkan jarum pendek berada di angka 7. Pukul 07.53.
“Pasti nanti di depan alun-alun macet.” Batin Novita menerka sambil menghela napas panjang. Hhuufft.
Setelah 15 menit setengah perjalanan, Novita dan ayahnya berhenti di depan alun-alun karena terjebak macet.
            “Kayaknya kita berangkatnya kesiangan Novita,” kata ayah.
            “Iya yah, seharusnya kit..ta…” mulutnya tiba-tiba terasa kaku dan berhenti bicara. Matanya sedikit terbelalak melihat sesosok cowok dengan seragam SMK lengkap yang sekarang mengendarai motornya pelan karena terjebak macet pula.
            “Kak Aris??” tanpa sadar Novita menyebut nama itu lumayan keras, sehingga cowok yang ada disampinya itu menoleh dan membuka kaca helmnya.
            “Novita??” ucapnya dengan sedikit kaget dan tersenyum.
            “Iyah kak,” balas Novita sambil tersenyum.
            Ttinn..tinn..
Suara klakson mobil dari belakang Kak aris membuyarkan semuanya. Kak Aris tak menyadari kalau mobil yang berjajar didepannya kini sudah menghilang.
            Ia dan Kak Aris berpisah dipertiga’an pojok alun-alun. Aku dan ayah belok kiri, sedangkan Kak Aris lurus kearah swadesi.
“Apa mimpiku semalam ada hubungannya dengan pertemuanku dengan Kak Aris barusan yah??” Novita teringat mimpinya semalam dan menghubungkan dengan pertemuan singkatnya dengan Kak Aris barusan. Novita hanya tersenyum manis.

--^^--
Novita adalah salah satu anak yang rajin dan juga pendiam. Ia lebih memilih membaca buku-buku atau novel daripada harus berkumpul bersama teman-temannya yang terbiasa menggosip. Namun tak jarang pula ia mencurahkan seluruh isi hatinya pada sahabatnya Dina jika ia merasa tak kuat menahan sendirian. Selain itu, Novita sangat juga termasuk anak yang kreatif. Dapat dilihat dari madding yang ia buat sendiri yang dipajang di dinding kamarnya. Mading tersebut berisi foto orang-orang yang pernah membuat hidupnya bahagia dan harapan-harapannya kelak di masa depan.
Ttteet…ttett…teeeett…
Bel pulang terdengar memecahkan telinga. Semua siswa di kelas Novita tampak mengemasi buku-bukunya dan beranjak pulang. Maklum setiap hari jum’at sekolah Novita pulang lebih cepat dari biasanya, karena para laki-laki harus mengikuti sholat jum’at.
“Din, pulang yuk!!” Novita menarik tangan Dina. “Aku laper nih, pulang dulu yah!!”
“Tumben banget sih pulang, biasanya juga makan di kantin,” kata Dina dengan sedikit heran dan melepaskan tangan Novita.
“Nggak deh, pulang aja yuk Din!” jawab Novita sambil menarik tangan Dina kembali.
“Ya uda deh, tapi bareng sama Angel dan teman-teman lain aja ya.” Dina kembali ke dalam kelas mencari Angel, Reina, Nena dan Karin untuk mengajak mereka pulang bersama Novita.
Tak lama kemudian Dina keluar dan menghampiri Novita yang duduk di gazebo depan kelas.
“Tunggu bentar yah, Angel sama Karin nyelesaiin Fisika tadi,” kata Dina sambil duduk di samping Novita.
“Iya. Eh Din, aku tadi malem mimpi aneh deh. Dan tadi waktu aku berangkat sekolah aku ketemu sama Kak Aris dan yanglebih seru lagi Kak Aris senyum waktu liat aku,” ujar Novita dengan sedikit mengangkat alisnya dan tersenyum.
“Oh ya?? Cie…cie..cie.. yang lagi seneng nih yeee… hehehe…  Terus kamu mimpi apa semalem??” tanya Dina. Ia mulai sedikit menggeser tempat duduknya dan mendekat pada Novita.
“Aku tadi malem mimpi nikah, pakek kebaya putih, terus duduk di tempat pengantin kayak biasanya itu. Banyak bunga disamping tempat  dudukku. Tapi…” Novita berhenti sejenak menghela napas.
“Tapi apa??” Tanya Dina penasaran.
 “Tapi aku nggak tahu pengantin laki-lakinya itu siapa, hmmmb, aku berharapnya sih Kak Aris,” Novita menoleh dan menatap mata Dina yang sedikit melebar.
Dina terdiam mendengar cerita sahabatnya tersebut. Jantungnya tiba-tiba berdegup sangat cepat. “Semoga tak terjadi apa-apa dengan Novita” kata Dina dalam hati.
            “Kira-kira arti mimpiku semalem ada apa ya, Din?” ujarnya sambil menatap lurus kedepan dan mendekap map yang berisi buku-buku sekolah. Novita terdiam. Melamun.
“Ah nggak usah dipikirin kawan itu cuma mimpi kok, nggak ada artinya,” jawab Dina yang berusaha menenangkan Novita. Ia tahu sahabatnya tersebut sedang gelisah.
“Ayo pulaaaangg…” teriak Karin yang tiba-tiba dating dan memecahkan suasana hening yang ada saat itu. Terlihat Angel, Reina dan Nena menyusul dari belakang.
“Yuk pulang!!” Dina menarik lengan Novita yang masih tak menggubris teriakan Karin dan teman-temannya.
Akhirnya Novita membetulkan posisi tas dan mendekap mapnya. Ia mulai beranjak dari tempat duduknya dan berjalan bersama teman-temannya. Begitu keluar dari gerbang sekolah, tampak satu angkot yang berhenti. Mereka ber-enam naik. Didalam angkot mereka bercanda, tertawa, dan sesekali mengulas kembali kekecewaan ulangan mereka yang lumayan jeblok.
“Nanti naik bus kuning aja ya,” kata Novita tiba-tiba. Semuanya langsung terdiam.
“Kok tumben Nov??” Tanya Nena sedikit heran.
“Nggak apa-apa soalnya aku uda laper banget. Kalau naik bus kan cepet sampek,” ujar Novita sedikit tersenyum.
“Oh gitu, oke deh.”
Setelah mereka sampai di depan stasiun, mereka langsung naik ke bus kuning yang kebetulan masih berhenti. Bus tersebut lumayan kosong karena saat itu waktunya sholat jum’at. Beberapa menit kemudian bus kembali berjalan. Bus tersebut melaju sangat cepat, mendahului dari kanan maupun kiri. Sehingga mereka ber-enam serasa dikoyak berada di dalam bus.
Kurang lebih perjalanan 10 menit, Novita bangkit dari tempat duduknya. Ia merasa kalau sudah saatnya ia akan turun. Ia lalu berjalan sempoyongan ke pintu belakang saraya berkata pada teman-temannya.
“Aku turun dulu yah.” Katanya dengan tangan kanan meremas gagang pintu dan tangan kiri sibuk dengan mapnya. Novita berdiri di pinggiran pintu seakan bersiap untuk turun, padahal tempat biasanya ia turun masih bisa di bilang kurang 500m lagi.
“Iyah hati-hati Novita,” sahut Dina.
Bus tersebut belum berhenti, malah lajunya semakin kencang. Ketika bus melewati serongan jalan di depan pom bensin. Tubuh Novita terhuyung keluar. Tangannya tak kuat menahan badannya yang hampir keluar dari bus. Dan akhirnya…
“Aaaaaaahhhhh…” Brruukkk… bruukkk… bruukk…
Terdengar suara teriakan dari pintu belakang.
“Novitaaaaaa!!!! Novita jatuh!! stop Pak!! Stoooppp!!!” teriak Dina ketika melihat Novita jatuh terguling di pinggir jalan.
Namun bus tak berhenti dan semakin kencang.
Sontak saja seluruh penumpang yang ada di dalam bus berteriak Stop kepada supir ketika mendengar teriakan Dina dan menoleh ke belakang melihat Novita penuh darah.
Akhirnya bus berhenti dan teman-teman Novita turun dari bus. Mereka langsung berlari menghampiri teman mereka yang sedang berlumur darah. Novita merintih kesakitan. Darah segar mengalir keluar dari hidung, telinga dan mulutnya. Seluruh buku dan map yang ia bawa semuanya berantakan.
“Ya Allah Novitaaaa,” Dina berteriak histeris ketika mendapati sahabatnya tergeletak penuh darah.
“Ya Allah, kita harus kasih tau orangtuanya.  Reina ayo ikut aku!!” tanpa menunggu lama lagi Nena dan Reina langsung berlari sekencang-kencangnya ke rumah Novita untuk memberi kabar kalau Novita kecelakaan.
Sementara itu Dina, Angel, dan Karin tetap menunggu polisi datang.  Tampak orang-orang mulai mengerubuti Novita yang tergeletak di pinggir jalan dengan darah yang terus mengalir.
10 menit kemudian polisi datang dengan membawa mobil satpol PP yang terbuka dan kursi saling bertolak belakang. Umumnya biasa di pakai untuk razia gepeng.
Polisi lalu mengangkat tubuh Novita dan membawa ke rumahsakit terdekat, tak lupa Dina, Angel, dan Karin turut serta. Di tengah perjalanan tak henti-hentinya ketiga teman-teman Novita menangis menatap temannya yang mungkin sekarang sedang sekarat dan kesakitan.

Rumah Sakit Umum…
Pukul 12.27 …
            Darah Novita telah dibersihkan namun tetap saja keluar walaupun tak sebanyak sebelumnya. Kebetulan yang merawat adalah tantenya sendiri, Tante Merin [ibu Faza]
            “Sudah mbak mending nggak usah dirujuk ke Malang, anak ini hidupnya mungkin nggak akan lama lagi,” kata salah seorang perawat kepada tante Merin.
            “Nggak mungkin mbak, masak keponakanku hidupnya sampek disini aja,” ucap tante Merin lirih. Suaranya bergetar.
            Ibu Novita tiba di Rumah Sakit dengan bercucuran airmata. Pikirannya tak karuan melihat anaknya tergeletak kesakitan. Tak henti-hentinya ibu Novita bercucuran hingga menemani Novita dirujuk ke RumahSakit Malang dengan ambulans.
            Di perjalanan, ibunya tak melepaskan genggamannya sedikitpun pada Novita. Kini kaki dan tangan Novita perlahan berubah menjadi tampak putih pucat dan terasa sangat dingin. Ibunya menggosokkan minyak kayu putih hingga menghabiskan dua botol. Namun tangan dan kaki Novita makin teras dingin dan wajahnya berubah menjadi sangat putih pucat pasi.
            Tuhan ternyata telah memberikan jalan terbaiknya. Tak ada hirupan napas. Tak terdengar degup jantung yang berdetak. Tak ada gerakan. Novita memejamkan matanya perlahan. Bibirnya sedikit tersungging membentuk sebuah senyuman terakhir Novita.
            “Innalillahi wa’inna Ilaihiroji’un” seru salah satu perawat setelah ia menyadari bahwa Novita telah tiada.
Sontak ibunya meraung-raung memanggil nama Novita sambil terisak.
“Nggak mungkin anakku sudah meninggal, nggak mungkin, kamu bohong kan??” ibunya menarik-narik baju perawat tadi. Hingga ibunya hampir mencakar-cakar wajah perawat tersebut. Ibunya sangat panik, tak terkendali, akhirnya ambulans putar balik ke rumah sakit yang sebelumnya berhenti sebentar.

--^^--
Sabtu, 23 Mei 2009…
Pagi…
Dina mengeluarkan motornya hendak pergi mencari seseorang. Memang semenjak sahabatnya meninggal seminggu  yang lalu, Dina hanya menangis di dalam kamarnya. Kadang jika ia ingin bertemu dengan Novita, ia hanya bisa menatap kamar Novita yang penuh dengan kenagan-kenangan saat bersamanya.
Hari ini Dina akan pergi mencari Kak Aris. Sebelumnya ia sudah mendapatkan infomasi  dari berbagai sumber tentang keberadaan Kak Aris saat ini. Ia ingin sahabatnya tersenyum bahagia di atas sana.
Tokk!! Tok!! tok! “Assalamu’alaikum”… tok! Tok!tok! “Assalamu’alaikum”…
Dengan harap-harap cemas ia berdoa kalau yang mebuka pintu nanti ada seseorang yang diharapkannya.
Cekllikk!!! “wa’alaikumsalam” jawab orang dibalik pintu. Keluar seorang cowok yang berbadan tinggi.
“Kak Aris,” ucap Dina sedikit kaget.
“Dina??” Tanya Kak Aris lebih kaget dari Dina. “Eh, ayo silahkan masuk Din, ada apa yah kok tumben maen kesini? Tau darimana rumahku disini?”
“Emmm, Kak Aris aku kesini mau kasih tau sesuatu sama Kak Aris,” kat Dina memulai pembicaraan.
“iyah, kasih tau apa ya??” kak Aris mulai penasaran.
“Kak, Novita udah pergi,” mata Dina mulai berkaca-kaca.
“Hah?? Pergi?? Pergi kemana??” Kak Aris mulai panik.
“Iyah kak, pergi ke rumah Allah,” jawab Dina lirih, bibirnya gemetar.
“Maksudnya.. ke rumah Allah? Meninggal?” terlihat dari raut muka Kak Aris yang berharap Dina menjawab hhahah aku bercanda kok kak. Tapi memang inilah kenyataannya, Novita memang sudah tiada.
Dina hanya mengangguk pelan dengan airmata yang telah mengalir, ia tak mampu untuk mengatakan kata iya.
“Iinnalillahi wa’inna’ilaihi rojiun, gimana ceritanya Din?” Kak Aris mulai lemas dan sangat terpukul mendengar semua itu.
Akhirnya dengan sekuat tenaga, dengan sisa keberanian yang ada, Dina menceritakan semuanya mulai awal bagaimana perasaan Novita pada Kak Aris hingga bagaimana ajal bisa menjemputnya.
Mata kak Aris memerah mendengar semua cerita Dina. Setelah Dina slesai bercerita, Kak Aris kemudian langsung beranjak dari duduknya dan mengajak Dina untuk kerumah Novita saat itu juga.
Dina dak kak Aris akhirnya menuju ke rumah Novita.

Rumah Novita …
“Silahkan masuk, itu kamarnya,” ibu Novita mempersilahkan Dina dan Kak Aris masuk kekamar Novita.
Saat Kak Aris memasuki kamar seorang cewek yang selama ini dia cintai ternyata kini tinggal nama saja. Hatinya terasa seakan diiris pisau yang sangat tajam. Perih. Tiba-tiba tubuh Kak Aris serasa tak punya tenaga, ia jatuh terduduk di atas kasur Novita setelah ia membuka dan membaca sebait puisi di dalam diary Novita.
Wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca, bibirya bergetar. Ia tahu, beribu-ribu kata maaf dan penyesalan sekalipun tak akan pernah bisa membuat orang yang dia cintai kembali hidup di dunia ini. Ia tak menyangka jika pertemuaannya di depan alu-alun waktu itu adalah pertemuannya yang terakhir dengan orang yang dia cintai.
Airmatanya mulai menetes ketika tangannya membuka lembaran baru.
Foto Novita Purwati Ningsih…

SELESAI




You may also like

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.