Masih dalam cerita panjang yang bersambung, menunggu lelehnya buliran-buliran bening, menunggu seminya bunga warna-warni. Hai mentari pagi betapa senang ketika melihat cahayamu menyilaukan mataku  lagi. Aku senang malam ini akhirnya aku masih bisa jatuh cinta lagi, walaupun pada dasarnya aku tak pantas menggunakan kata 'akhirnya'. Mungkin setelah sekian lama musim dingin itu membekukannya, ia menutup pintunya rapat-rapat untuk siapa saja yang ingin masuk. Namun sekarang, karena mentari itu lagi menerobos lorong-lorong beku didalamnya maka untuk alasan apa ia berani membuka pintu dan mempersilahkan seseorang masuk dan singgah didalamnya.
Aku?? sesungguhnya aku belum memberanikan diriku bertanya 'untuk alasan apa aku menyayanginya?'. Tatapan mata itu sungguh merindukan, menyibak satu persatu dedaunan yang menutupi hatiku. Kesekian kali membiarkan seseorang masuk namun alhasil masih nihil tak terjadi apa-apa. Tapi kamu... Kamu dengan sesuatumu entah sesuatu itu apa dan bagaimana, telah memberiku senyuman dan kenyamanan yang berarti. Memang musim dingin sudah berganti, menjadi musim semi yang indah penuh bunga bermekaran layaknya hatiku saat ini.
Sekali lagi. Hai seseorang, diam-diam aku selalu merindukanmu tiap malam. Diam-diam aku selalu memandangi gambaran wajahmu di ingatanku. Diam-diam aku mulai mengasihimu tanpa alasan. Diam-diam aku ingin memelukmu setiap waktu. Masih dalam malam aku nyatakan aku menyayangimu. Walau kau tak pernah tahu, walau kau tak pernah percaya. Bukan karena apa-apa aku menyayangimu namun karena telah terjadi sesuatu yang tak bisa dijelaskan didalam hati ini. Aku sungguh berharap musim dingin tidak datang untuk mengusirmu, akan tetapi aku berharap musim dingin datang untuk menghangatkanmu di dalam sini. Karena sesungguhnya musim dingin pun sudah berganti...
Diberdayakan oleh Blogger.